Ekonomi kerakyatan yang sebenarnya
Sejak diproklamasikannya kemerdekaan
Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pemerintah bersama
masyarakat mulai mengisi kemerdekaan dengan usaha pembangunan di
berbagai bidang. Hal itu dilakukan karena kemerdekaan sebenarnya
bukanlah merupakan tujuan akhir, melainkan jembatan emas dalam
mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, yaitu untuk membangun masyarakat
yang sejahtera, adil, dan makmur baik materiil maupun spiritual. Namun
kenyataannya, akibat krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997,
sebagian besar penduduk Indonesia kini hidup di bawah garis kemiskinan
yang penyebab utamanya adalah karena mereka tidak memiliki pekerjaan.
Krisis ekonomi telah menyebabkan tutupnya sejumlah besar perusahaan dan
menyebabkan terjadinya peningkatan angka pengangguran secara drastis.
Pertumbuhan ekonomi yang selama ini
terjadi tidak mengubah ketimpangan, karena proporsi manfaat pertumbuhan
dirasakan sama oleh masyarakat kaya dan miskin. Sumber daya masyarakat
miskin terbatas, maka tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi
kemudian lebih banyak dinikmati oleh masyarakat kaya karena mereka
memiliki lebih banyak sumber daya.
Sesungguhnya ekonomi kerakyatan adalah
suatu kebijakan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat miskin.
Tujuannya, agar kelompok ini dapat menikmati pertumbuhan ekonomi secara
lebih baik dan mereka juga dapat lebih jauh terlibat dalam aktivitas
ekonomi. Inilah yang dikenal sebagai pro-poor growth
(kebijakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat miskin).
Asal-usul kebijakan ekonomi ini berawal dari kegagalan pendekatan yang
mengutamakan pertumbuhan dan mengabaikan distribusi. Kebijakan ekonomi
ini dapat dilacak pada 1970-an ketika Chenery dan Ahluwalia mengenalkan
konsep “pertumbuhan dengan pemerataan”.
Pada 1990-an Bank Dunia mengadopsi model tersebut dan memberikan nama broad-based growth (pertumbuhan dengan basis yang luas). Dalam World Development Report yang diterbitkan pada 1990 oleh Bank Dunia, istilah ini tidak pernah didefinisikan. Hingga akhirnya pada 1990-an, istilah broad-based growth berubah menjadi pro-poor growth.
Elemen penting yang saling terkait dalam pertumbuhan yang berpihak
kepada rakyat miskin: pertumbuhan, kemiskinan, dan ketimpangan.
Intinya, kebijakan ini berupaya
mengurangi kemiskinan dan ketimpangan melalui pertumbuhan ekonomi yang
lebih berpihak secara jelas. Pro-poor growth sengaja
dirancang untuk memberikan kesempatan lebih banyak bagi masyarakat
miskin untuk terlibat dan menikmati hasil pembangunan. Caranya dengan
melibatkan masyarakat miskin dalam kegiatan ekonomi, agar mereka
mendapatkan manfaat dari kegiatan ekonomi.
Selain itu, kebijakan ini memerlukan
dukungan politik yang kuat karena biasanya menyangkut sektor publik yang
menyedot dana besar seperti bidang pendidikan, kesehatan, keluarga
berencana, akses kredit atau modal, dan promosi UMKM.
Ekonomi kerakyatan Untuk siapa?
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam
laporan bulan Mei 2012, menyatakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 6,32 persen atau 7.61 juta
orang.Angka tersebut mengalami penurunan dibanding TPT Agustus 2011
sebesar 6,56 persen dan TPT Februari 2011 sebesar 6,80 persen.
Rilis laporan BPS tersebut disampaikan
secara langsung oleh Kepala BPS Suryamin di kantor BPS Jalan Dr. Sutomo,
Jakarta, Senin (7/5/12). Data yang dirilis merupakan pendataan langsung
dan hasil kompilasi produk administrasi pemerintah oleh jajaran BPS di
seluruh Indonesia.
Akan tetapi data tersebut bukanlah
suatu prestasi yang membanggakan bagi pertumbuhan ekonomi indonesia yang
sangat dipengaruhi oleh tingkat jumlah pengangguran suatu negara.karena
hanya mengalami penurunan tingkat pengangguran dari tahun sebelumnya
sebesar 0,28 persen.tentunya hal ini disebabkan oleh kebijakan Dan
strategi ekonomi pemerintah dalam menurunkan tingkat pengangguran agar
dapat mengembangkan perekonomian indonesia belum dapat dikatakan
maksimal .serta hal ini membuktikan bahwa kebijakan pemerintah selama
ini belum menyentuh masyarakat kecil dan tidak menjadi solusi bagi
Keadaan ekonomi yang semakin tidak kondusif.
Di aceh sendiri lebih miris dan menyayat
hati dimana Serambi mekkah merupakan salah satu provinsi dengan daerah
kabupaten tertinggal terbanyak di indonesia hal ini berdasarkan
keputusan Kementerian PDT nomor 001/KEP/M-PDT/02/2005 tentang penetapan
lokasi program p2dtk, masih terdapat 17 dari 23 kabupaten/kota yang
tergolong daerah tertinggal termasuk wilayah perbatasan, hal ini sungguh
sangat disayangkan mengingat di kabupaten daerah tertinggal tersebut
kebanyakan memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah seperti hasil
laut dan pertanian seharusnya menjadi fokus pemerintah dalam
mengembangkan perekonomian didaerah tersebut.
Menurut data BPS yang dipublis pada
situs aceh.bps.go.id di aceh masih terdapat 8,27 persen tingkat
pengangguran (data 2011) jauh diatas rata-rata tingkat pengangguran
nasional sebesar 6,80 persen dan 19,46 persen untuk tingkat kemiskinan
yang artinya terdapat sebanyak 909,04 orang penduduk miskin di aceh.
Ketika para pemimpin di negara ini
berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuasaan dan berpindah-pindah partai
jauh diperut bumi Negara Republik indonesia masih terdapat ±7,61 juta
pengangguran terbuka dan mereka terus di beri janji-janji para
pemimpinnya yang entah sampai kapan akan menepatinya.
Ketika para pejabat Di aceh kini
disibukkan dengan berbagai kepentingannya dan melakukan berbagai
persiapan menjelang pemilu 2014 agar dapat menyongsong masa depan
dirinya dan partainya disisi lain jauh di bawah pegunugnan serambi
mekkah terdapat 17 kabupaten tertinggal dan masih terdapat 909,04 jiwa
miskin yang belum tentu arah masa depannya .
Saya ingin berbagi pengalaman saya mendapatkan persetujuan pinjaman dari perusahaan pinjaman Tn. Pedro, yang mana pengajuan pinjaman saya ditolak oleh bank karena kredit saya buruk. Namun Pedro memberi saya pinjaman dengan bunga 3%, sebesar 7 juta dolar AS. Saya akan mendorong orang lain yang mencari pinjaman untuk menghubungi kantor pinjaman Pedro melalui email di pedroloanss@gmail.com atau WhatsApp di +393510140339.
ReplyDelete